Kisah ini adalah kisah yang sejak lama menjadi kisah favoriteku dalam dunia pewayangan. Kisah seorang murid bernama Bambang Ekalaya yang ingin belajar memanah pada Guru Durna, namun Guru Durna menolaknya, karena ia sudah terlanjur berjanji hanya akan menjadi guru bagi kerajaan Astina. Bambang Ekalaya tidak menyerah, kemudian dia mebuat patung Pandita Durna dan belajar di depan patung itu sambil terus memberi penghormatan pada patung itu layaknya gurunya sendiri. Ketekunan Ekalaya tidak sia-sia, kemampuan memanahnya tidak kalah tanding dibandingkan dengan kemampuan Arjuna yang mendapat fasilitas lengkap dan langsung diajar oleh Guru Durna.
Konflik antara Arjuna dan bambang Ekalaya terjadi pada saat Arjuna prgi berburu bersama anjingnya. Anjing Arjuna terkena panah Bambang Ekalaya yang sedang berlatih, itu semua karena anjing tersebut menganggu jalannya latihan, jadi dengan terpaksa Ekalaya memanahnya. Namun Arjuna merasa tidak terima, merasa tersaingi kemampuan memanahnya, dan yang lebih parah ternyata Ekalaya juga memiliki ketampanan yang setara dengan Arjuna, ditambah lagi istri Bambang Ekalaya juga sangat cantik dan membuat hati Arjuna terpesona dan langsung jatuh cinta.
Sifat mata keranjang sebagai salah satu sifat angkara murka inilah yang akhirnya membuat Arjuna bersikap arogan.Arjuna yang sudah dikuasai nafsu akhirnya mengajukan protes pada Pandita Durna, dia mengatakan kalau Pandita Durna sudah menyalahi janji dengan mengajar Ekalaya memanah. Arjuna juga bersikukuh pdkt sama istri Bambang Ekalaya.
Karena tidak terima dibilang sudah ingkar janji pandita Druna mencari cara agar dirinya tidak dicap mencla-mencle. Pandita Durna tahu betul kalau Ekalaya akan sendhika dawuh dengan titah gurunya, maka disuruhlah Ekalaya memotong jari jempolnya. Demi rasa patuh pada sang guru, Ekalaya menuruti titah pandita Durna, sebagai akibatnya dia tak lagi bisa memanah.
Arjuna yang kini merasa di atas angin, kembali memaksakan kehendaknya pada istri Ekalaya, maka terjadilah perang tanding yang tidak seimbang antara Arjuna dan Ekalaya. Ekalaya pun gugur sebagai ksatria, dan istrinya memilih ikut mati timbang diperistri Arjuna. Sebelum mati, Ekalaya yang merasa telah dikhianati masih sempat mengutuk Pandita Durna yang akan meninggal pada saat perang Baratayudha.
Sebenarnya tidak ada yang lebih menarik dalam cerita ini selain ketekunan Ekalaya dalam belajar. Di tengah keterbatasan, dia yang nyata-nyata ditolak gurunya, tapi tetap hormat dan mengambil nilai-nilai luhur dari seorang guru. Dia membuktikan satu hal penting dalam hidup, keterbatasan bukan alasan untuk tidak berprestasi!
Ketidakhadiranku dalam setiap pertemuan matapena, laptopku yang tiba-tiba mati, dan modemku yang kutinggal pergi, hanya akan menjadi keterbatasan ketika aku bergantung pada mereka. Kian lama aku kian menyadari, kelas ini hanyalah kata pengantar dalam setiap karya kita, dan karya itu ada pada diri kita sendiri. Ketekunan kita, keistiqomahan kita untuk menulis, dan kemauan keras kita untuk terus belajar dan berkarya. Kita tidak membuat karya itu di kelas, dalam diskusi-diskusi di fb, namun tangan kita sendiri yang harus membuatnya!
Ayo kawan, meski jari harus ditopang isolasi, kita selesaikan buku impian, Palguna ataupun Palgunadi, Arjuna atau Bambang Ekalaya, kita harus jadi pemenangnya! Mari berlomba!
Ied ide I did
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas apresiasinya, semoga menjadi bahan perbaikan ^^