Malam ini panitia menyebar peserta pesantren dengan jarak yang membuat mereka tidak mungkin berinteraksi satu sama lain. Tidak ada komunikasi apapun kecuali sebuah kentongan bambu yang hanya boleh dipukul jika ada bahaya mengancam. Begitu aturan main dalam perjalanan malam ini. Aryo tidak akan ambil pusing dengan peraturan konyol macam itu, tapi dia juga tidak bisa berulah, mau teriak? tengsin sama peserta lain, mau tidur? jelas bukan pilihan bijak di udara 5 derajat celcius.
Dibayangkannya wajah Leo, Bram, Ishak dan David, mereka pasti akan mengejek Aryo habis-habisan kalau sampai tahu dia ikut acara pesantren liburan. Terbayang dalam benak Aryo lelucon apa yang akan mereka lontarkan, dia akan menjadi bahan olok-olok teman gank motornya sampai berbulan-bulan. Setengah menyesali keputusannya dia terus melangkah, sambil membayangkan sebatang rokok menemaninya melewati malam.
Hatinya semakin gelisah, berulangkali dia mengumpat dirinya sendiri. “Shit! Seharusnya kutolak mentah-mentah tawaran mama! Seharusnya malam ini aku sedang bersenang-senang bersama teman-temanku!”, terbayang sebuah motor sport ninja keluaran terbaru yang dijanjikan mamanya, hadiah jika dia mau mengikuti pesantren liburan bersama sepupunya. Bayangan dirinya yang tengah menaiki motor itu sedikit membantu mengobati gelisah hatinya.
Kabut turun perlahan, begitu anggun asap putih itu membatasi pandangan mata Aryo, namun anehnya dalam pandangan mata Aryo kabut itu seakan membentuk lafadz Alloh, perlahan tapi pasti kabut itu menyelimutinya dengan hawa dingin yang sangat menusuk. Rasa takut menguasai dirinya, keringat dingin mebasahi keningnya, dia ingin berlari menjauh tapi kakinya begitu berat untuk melangkah, dia merasakan kabut itu menahannya, hingga kedua kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri, kabut itu memeluknya erat, membekukan darahnya. Sekuat tenaga Aryo memukul kentongan di tangannya, dia menyerah.
***
Malam berlalu begitu cepat, seluruh peserta telah berkumpul kembali di tanah lapang usai melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Ustadz Hilman memberikan perenungan yang begitu dalam, malam ini mereka telah belajar tentang ketauhidan, bahwa hakekatnya manusia tak pernah sendiri, sebab Alloh selalu mengawasi hamba-hambaNya.
Sebuah tepukan lembut mengagetkan Aryo yang setengah tertidur dalam duduknya. “Aryo, ikut saya sebentar ada hal penting yang akan saya sampaikan!” ujar suara kang Iman, pembimbing kelompoknya selama mengikuti pesantren. Dengan langkah malas Aryo mengikuti kang Iman. “Yo, maaf saya harus menyampaikan hal ini, ada berita duka dari mamamu, teman kamu David dan Leo kecelakaan, David sekarang dalam kondisi kritis, dan Leo...” kang Iman berhenti sejenak sebelum akhirnya menyempurnakan perkataannya, “Leo tidak bisa diselamatkan, hari ini rencananya akan dimakamkan jam 10.”
Aryo terdiam, ada perih yang memenuhi setiap sudut hatinya. Dia tidak ingin menangis, lebih tepatnya tidak mampu menangis,nafasnya seakan terhenti, Aryo tak mampu berkata-kata, tergambar jelas dalam ingatannya peristiwa semalam, terngiang dalam benaknya ucapan Ustadz Hilman, “Dalam keadaan bagaimana malaikat maut akan menjemputmu?” , hanya kata itu yang memenuhi benaknya. Hatinya menuntun langkahnya menuju deretan kran air di sisi belakang tenda, entah mengapa dia ingin sekali mengambil air wudhu.
-Kenangan Ramadhan beberapa tahun lalu di Cikole-(Ied ide I did)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas apresiasinya, semoga menjadi bahan perbaikan ^^