Rabu, 26 Oktober 2011

Menurutmu Lelaki Yang Baik Itu Yang Seperti Apa?


“Menurutmu lelaki yang baik tuh yang kaya apa sich?”

Barangkali pertanyaan itu adalah pertanyaan klasik yang seringkali menjadi perbincangan diantara para perempuan.

Aku terdiam untuk beberapa saat ketika seorang kawan menanyakannya padaku. Aku ingin meberikannya definisi yang lebih baik dari sekedar kalimat normatif yang hampir semua orang telah memahaminya. Satu sisi aku juga tidak yakin temanku membutuhkan jawaban dariku, barangkali ini hanyalah dialog hati yang terlalu nyaring hingga gemanya menembus tenggorokkan.

Lelaki yang baik, aku mengulang kata itu hanya dalam bayanganku. Aku mulai memikirkan sosok sempurna seperti Mush’ab bin Umair dalam versiku yang amat jatuh cinta pada pemuda jamannya itu. Ah, rasanya konyol kalau aku harus menemukan Mush’ab yang serupa Mush’ab di abad 21. Lalu pikiranku mengajakku untuk mendefinisikannya dalam sebuah gagasan yang akhirnya menjadi tulisan ini.

Aku ingin agar definisiku lebih objektif, penting untuk diriku yang kata orang terlampau idealis. Aku memulai dengan hal-hal yang tidak aku sukai dari seorang lelaki, setidaknya kupikir jika itu tidak ada pada seorang lelaki, maka bisa jadi dia adalah lelaki yang baik menurut sebagian orang.

Hal yang paling menggangguku adalah lelaki perokok. Dia memegang rokoknya dengan tangan kiri, memasukkannya ke dalam mulutnya, sementara tangan kanannya sibuk mengerjakan hal lain seperti memegang Hp, atau hal yang semacamnya, sementara udara di sekitarnya menjadi penuh asap, dia tidak merasa bersalah, bahkan nampak larut dalam dunianya. Bagiku lelaki macam ini sudah pasti adalah seorang yang tidak baik! Bagaimana mungkin seorang yang dzolim pada dirinya sendiri tidak akan mendzolimi orang lain?

Sejenak aku memikirkan hal kedua, ingatanku melayang pada lelaki yang tenang-tenang saja dan tetap bergeming dengan apapun aktivitasnya ketika adzan berkumandang. Dia tidak bersegera menuju mushola atau masjid terdekat.

Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu? Padahal amat jelas hadist Rosululloh yang menjelaskan tentang wajibnya seorang lelaki berjamaah ke masjid. Jika Ibnu Ummi Maktum yang buta dan tak memiliki penuntun saja wajib mendatangi adzan, lalu bagaimana dengan orang yang segar bugar? Apalagi jaman sekarang masjid sudah seperti jamur di musim hujan! Maka menurutku lelaki macam itu, bukan lelaki baik-baik.

Berikutnya adalah lelaki yang suka memukul dan kasar. Suka yang kumaksud adalah predikat yang memiliki arti dengan senang hati melakukan hal itu, menjadikan hal itu sebagai hobi dan kebiasaan, bahkan telah menjadi karakter. Jelas berbeda perangai orang kasar dan orang halus (macam makhluk halus saja).

Lelaki adalah pelindung bagi yang lemah, sebab mereka memang telah dilebihkan dari segi kekuatan. Apa jadinya jika seorang lelaki memukul anak kecil atau perempuan? Dia lebih bisa disebut (maaf) banci. Kecuali ada alasan khusus yang sesuai syariat tentunya.

Islam sendiri memberikan begitu banyak rambu-rambu dalam hal ini. Yang paling menarik adalah sebuah hadist Rosululloh SAW. Dalam riwayat dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang dari kebaikan.” (HR. Muslim).

Maka bagiku, model lelaki brangasan yang seenaknya saja main kasar dan menganggap tindakan pemukulan adalah solusi dari sebuah persoalan, dia tidak termasuk lelaki baik-baik.

Yang keempat adalah lelaki yang punya gengsi teramat besar. Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada lelaki macam itu. Yang aku maksud disini adalah lelaki yang lebih mengedepankan gengsi daripada akalnya untuk bertindak. Gengsi ini akan membuat dia menjadi seorang pemilih yang tak rasional, memilih sesuatu untuk mendongkrak prestise, bagiku itu hal yang sangat konyol!

Bukan tanpa sebab aku membenci hal itu, terlalu banyak orang yang menjadi korban gengsinya sendiri, contoh kecil dalam hal memilih pekerjaan, ada beberapa orang yang memilih menjadi pengangguran ketimbang menjadi penjaja es keliling atau tukang tambal ban, atau pekerjaan lain yang dianggap sebagai kelas dua. Padahal pekerjaan itu halal dan baik. Belum lagi kesibukannya memakai topeng demi gengsi, dengan pakaian yang menurutnya berkelas, dan begitu banyak aksesoris yang tidak mencerminkan jati diri dan isi dompet sekaligus isi otak. Kebanyakan dari mereka yang memasang beitu banyak label dalam dirinya adalah orang-orang yang tingkat PD-nya rendah! Lelaki model ini, patut dipertanyakan segala komitmennya, karena gengsi sebetulnya adalah akar dari kesombongan itu sendiri, dan tidak ada bagusnya seorang lelaki yang sombong.

Aku tidak ingin lagi memperpanjang daftar hal-hal yang tidak aku sukai dari seorang lelaki, karena kupikir itu akan menjadi sebuah daftar yang sangat panjang. Tapi aku juga tidak akan melewatkan bagian ini, lelaki yang genit dan mata keranjang, memiliki hobi tebar pesona yang kronis dan sudah pasti semua sepakat dia bukan lelaki yang baik.

Aku kembali pada perbincangan tentang lelaki yang baik dengan kawanku, sebaik-baik teladan adalah Rosululloh dan kupikir untuk selain itu hukum relativitas selalu berlaku, tapi lelaki yang baik itu pasti punya nama! Sambil tersenyum kukatakan hal itu padanya.

(Ied ide I did)

Rabu, 05 Oktober 2011

Teladan Istri Sholehah

Asma binti Abu Bakar, dialah teladan dalam birrul walidain, teladan dalam ibadah, teladan dalam berbakti pada suami, teladan dalam perjuangan dan dakwah, teladan dalam bernegara, teladan dalam bekerja dan mencari nafkah. Asma binti Abu Bakar, Ayah dan saudarinya adalah orang yang paling dicintai Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Wajar bila Asma memiliki keutamaan karena lahir dan hidup dibawah bimbingan ayahnya Abu Bakar Ash-shiddiq manusia yang paling jujur diatas muka bumi ini.

Pernikahannya dengan Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu tidaklah bermandikan harta , apalagi rumah mewah beserta segala isinya atau budak-budak yang siap melayani keperluannya, Zubair bukanlah seorang yang berpangkat dan berharta. Kehidupan mereka serba kekurangan. Satu-satunya harta milik Zubair adalah seekor kuda. Mungkin kita tak akan bisa membayangkan bagaimana tabah dan sabarnya Asma radhiyallahu anha dalam menghadapi kesulitan hidup.

Asmalah yang merawat kuda suaminya. Tangannya kasar karena harus menumbuk gandum, mengusung kurma yang telah dipotong Rasulullah kemudian mengangkutnya diatas kepalanya dengan berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Bahkan dia masih membantu suaminya menyamak dan menjual hasilnya di pasar. Adakah Asma mengeluh atas itu semua? Itu bukanlah sifatnya. Itu semua tidaklah mengurangi rasa hormat dan baktinya pada suaminya tercinta. Ia senantiasa berusaha taat dan berusaha menjaga keridhaan suaminya.

Banyak diantara perempuan muslimah yang mengharapkan hidup mulia dan jauh dari kesulitan setelah menikah. Mereka bermimpi bahwa menikah akan mengatasi segala kesulitan hidup, mereka mengharap kemudahan akan datang dari suaminya. Mereka terjebak tipu daya syaitan, mengharapkan pangeran tampan menjemputnya dengan kendaraan mewah menuju rumah megah. Sungguh mereka telah salah memaknai sebuah keberkahan dalam pernikahan. Mereka... terlalu naif... mereka lupa, ridho Alloh adalah berkah yang sesungguhnya harus dikejar, yang akan menyelamatkan mereka dari panasnya api neraka yang bahan bakarnya batu dan manusia... naudzubillah tsumma naudzubillah... semoga kita tidak termasuk dalam golongan mereka...

Kisah Asma binti Abu Bakar bukanlah drama picisan yang dibuat-buat untuk membuat para pembaca terhibur tenggelam dalam alam khayalan dan mimpi. Kisahnya adalah kenyataan hidup yang dijalaninya dengan penuh keikhlasan dan keredhaan.

Asma adalah teladan yang luar biasa dalam menjaga kesetiaan. Dia menolak tawaran Rasulullah untuk ikut naik menunggang onta di belakangnya, padahal ketika itu dia membawa kurma yang cukup berat diatas kepalanya sambil menempuh perjalanan sejauh dua pertiga farsakh. Asma merasa malu dan menjauhinya. Karena dia tahu suaminya adalah seorang yang pencemburu.

Asma, engkau berharap keridhaan suamimu dengan demikian engkau berhak mendapatkan keredhaan Alloh penggenggam alam semesta. Dan, memang engkau telah mendapatkannya wahai Asma. Selamat untukmu !!! Bagaimana dengan kita???(Ied ide I did)