“Menurutmu lelaki yang baik tuh yang kaya apa sich?”
Barangkali pertanyaan itu adalah pertanyaan klasik yang seringkali
menjadi perbincangan diantara para perempuan.
Aku terdiam untuk beberapa saat ketika seorang kawan menanyakannya
padaku. Aku ingin meberikannya definisi yang lebih baik dari sekedar kalimat
normatif yang hampir semua orang telah memahaminya. Satu sisi aku juga tidak
yakin temanku membutuhkan jawaban dariku, barangkali ini hanyalah dialog hati
yang terlalu nyaring hingga gemanya menembus tenggorokkan.
Lelaki yang baik, aku mengulang kata itu hanya dalam bayanganku. Aku
mulai memikirkan sosok sempurna seperti Mush’ab bin Umair dalam versiku yang
amat jatuh cinta pada pemuda jamannya itu. Ah, rasanya konyol kalau aku harus
menemukan Mush’ab yang serupa Mush’ab di abad 21. Lalu pikiranku mengajakku
untuk mendefinisikannya dalam sebuah gagasan yang akhirnya menjadi tulisan ini.
Aku ingin agar definisiku lebih objektif, penting untuk diriku yang kata
orang terlampau idealis. Aku memulai dengan hal-hal yang tidak aku sukai dari
seorang lelaki, setidaknya kupikir jika itu tidak ada pada seorang lelaki, maka
bisa jadi dia adalah lelaki yang baik menurut sebagian orang.
Hal yang paling menggangguku adalah lelaki perokok. Dia memegang rokoknya
dengan tangan kiri, memasukkannya ke dalam mulutnya, sementara tangan kanannya
sibuk mengerjakan hal lain seperti memegang Hp, atau hal yang semacamnya,
sementara udara di sekitarnya menjadi penuh asap, dia tidak merasa bersalah,
bahkan nampak larut dalam dunianya. Bagiku lelaki macam ini sudah pasti adalah
seorang yang tidak baik! Bagaimana mungkin seorang yang dzolim pada dirinya
sendiri tidak akan mendzolimi orang lain?
Sejenak aku memikirkan hal kedua, ingatanku melayang pada lelaki yang
tenang-tenang saja dan tetap bergeming dengan apapun aktivitasnya ketika adzan
berkumandang. Dia tidak bersegera menuju mushola atau masjid terdekat.
Bagaimana mungkin dia bisa setenang itu? Padahal amat jelas hadist
Rosululloh yang menjelaskan tentang wajibnya seorang lelaki berjamaah ke
masjid. Jika Ibnu Ummi Maktum yang buta dan tak memiliki penuntun saja wajib
mendatangi adzan, lalu bagaimana dengan orang yang segar bugar? Apalagi jaman
sekarang masjid sudah seperti jamur di musim hujan! Maka menurutku lelaki macam
itu, bukan lelaki baik-baik.
Berikutnya adalah lelaki yang suka memukul dan kasar. Suka yang kumaksud
adalah predikat yang memiliki arti dengan senang hati melakukan hal itu,
menjadikan hal itu sebagai hobi dan kebiasaan, bahkan telah menjadi karakter.
Jelas berbeda perangai orang kasar dan orang halus (macam makhluk halus saja).
Lelaki adalah pelindung bagi yang lemah, sebab mereka memang telah
dilebihkan dari segi kekuatan. Apa jadinya jika seorang lelaki memukul anak
kecil atau perempuan? Dia lebih bisa disebut (maaf) banci. Kecuali ada alasan
khusus yang sesuai syariat tentunya.
Islam sendiri memberikan begitu banyak rambu-rambu dalam hal ini.
Yang paling menarik adalah sebuah hadist Rosululloh SAW. Dalam riwayat dari
Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Barangsiapa yang terhalang dari kelembutan, dia akan terhalang
dari kebaikan.” (HR.
Muslim).
Maka bagiku, model lelaki brangasan yang
seenaknya saja main kasar dan menganggap tindakan pemukulan adalah solusi dari
sebuah persoalan, dia tidak termasuk lelaki baik-baik.
Yang keempat adalah lelaki yang punya
gengsi teramat besar. Aku sama sekali tidak melihat kebaikan pada lelaki macam
itu. Yang aku maksud disini adalah lelaki yang lebih mengedepankan gengsi
daripada akalnya untuk bertindak. Gengsi ini akan membuat dia menjadi seorang
pemilih yang tak rasional, memilih sesuatu untuk mendongkrak prestise, bagiku
itu hal yang sangat konyol!
Bukan tanpa sebab aku membenci hal itu,
terlalu banyak orang yang menjadi korban gengsinya sendiri, contoh kecil dalam
hal memilih pekerjaan, ada beberapa orang yang memilih menjadi pengangguran
ketimbang menjadi penjaja es keliling atau tukang tambal ban, atau pekerjaan
lain yang dianggap sebagai kelas dua. Padahal pekerjaan itu halal dan baik. Belum
lagi kesibukannya memakai topeng demi gengsi, dengan pakaian yang menurutnya
berkelas, dan begitu banyak aksesoris yang tidak mencerminkan jati diri dan isi
dompet sekaligus isi otak. Kebanyakan dari mereka yang memasang beitu banyak
label dalam dirinya adalah orang-orang yang tingkat PD-nya rendah! Lelaki model
ini, patut dipertanyakan segala komitmennya, karena gengsi sebetulnya adalah
akar dari kesombongan itu sendiri, dan tidak ada bagusnya seorang lelaki yang
sombong.
Aku tidak ingin lagi memperpanjang
daftar hal-hal yang tidak aku sukai dari seorang lelaki, karena kupikir itu
akan menjadi sebuah daftar yang sangat panjang. Tapi aku juga tidak akan
melewatkan bagian ini, lelaki yang genit dan mata keranjang, memiliki hobi
tebar pesona yang kronis dan sudah pasti semua sepakat dia bukan lelaki yang
baik.
Aku kembali pada perbincangan tentang
lelaki yang baik dengan kawanku, sebaik-baik teladan adalah Rosululloh dan kupikir untuk selain itu hukum relativitas selalu berlaku,
tapi lelaki yang baik itu pasti punya nama! Sambil tersenyum kukatakan hal itu padanya.
(Ied ide I did)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas apresiasinya, semoga menjadi bahan perbaikan ^^