Alloh sudah memberikan isyaratnya melalui Al-Qur’an “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”. Artinya tidak semua orang menyukai peperangan, bahkan sebetulnya mereka tidak ingin berperang, apalagi yang harus diperanginya adalah kerabat-kerabatnya sedarah… Tapi ringan atau berat… kebenaran harus ditunaikan.
Atau satu contoh paradox dalam ayat lain, seperti halnya Ibrohim yang menyembelih Ismail, menyembelih anak tersayang yang telah dinanti-nanti kehadirannya? Ayah mana yang dengan suka cita melakukannya? Tentu tidak ada! Tapi Ibrohim tetap melakukannya. Bukan karena dia tidak mencintai Ismail. Pertanyaan mendasar yang pasti muncul adalah, “Mengapa?” Mengapa Ibrohim pada akhirnya melakukannya? Dan mengapa Ismail dengan suka cita merelakan dirinya?
Alasan satu-satunya adalah “visi”. Visilah yang membuat mereka bisa melakukan hal-hal besar yang sebenarnya jauh dari nalar dan tak mudah dilakukan dan tak juga disukai. Visi cinta padaNya, satu-satunya yang berhak diibadahi, visi mencari keredhoan. Visi inilah yang membuat mereka paham, ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar baik atau buruk, karena kebaikan belum tentu sebuah kebenaran. Kebenaran yang diukur dari kacamata Tuhan, tentunya. Bukan dari sisi manusiawi yang lemah dan butuh banyak pemakluman. Sebab kebaikan itu bernilai relative dan kebenaran itu adalah mutlak! Dan kebaikan Tuhan itu hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang memang telah meyakini kebenaranNya!
Paradoks cinta-Nya inilah yang kemudian membedakan antara pengecut dan pemberani, sebab berani mencintai, berarti berani berkorban, bukan sekedar kata tanpa bukti, sementara jiwa sudah banyak berharap…
Jika kisah para Rosul dan sahabat masih kita anggap dunia lain yang jauh berbeda dari masa kini, maka tengoklah beberapa cerita paradox ini…
Alkisah dalam sebuah pendakian, serombongan pendaki sedang gelisah memikirkan nasib rekannya yang jari-jari tangannya membeku karena suhu yang telah mencapai minus… Bekunya jari-jari tangan itu telah sampai pada tahap kematian jaringan. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan pendaki tersebut, hanyalah dengan memotong jari-jari yang telah membeku.
Pertanyaan yang kembali muncul, siapa yang tega melakukannya? Sementara jika tak satupun rela melakukannya, maka kematian jaringan itu akan terus meluas ke seluruh tubuh, bahkan kalau mencapai pembuluh darah besar, itu bisa menimbulkan kematian yang cepat.
Waktu terus berlalu, tak ada pilihan lain, kecuali amputasi! Menyakitkan memang… tapi amputasi ini adalah jalan satu-satunya menuju perbaikan. Barangkali sakit saat itu, tapi sakit yang sebentar itu, walaupun tak mudah dilupakan… akan memberi kesempatan hidup pada pendaki tersebut. Harapan untuk melanjutkan hidup, walaupun tanpa jari.
Begitulah, terkadang hidup mempermainkan perasaan kita… rasa, rasa itulah yang terkadang membuat kita bersembunyi terlalu lama dari kenyataan, membuat kita melakukan hal yang kita anggap baik, tapi terkadang justru kebaikan itu menyakiti orang-orang disekitar kita. Kalau tak satupun dari rekan pendaki tadi tega memotong jari-jari pendaki yang beku, maka mungkin pendaki tadi akan mati…
Seperti kisah seorang istri yang tidak tega suaminya kehausan, lalu saking cintanya maka dia pun memberinya makan dan minum. Padahal suaminya itu baru saja dioperasi, dan dokter melarangnya untuk makan dan minum. Suaminya tercinta pun harus menanggung akibatnya. Inilah cinta yang tumbuh tanpa pemahaman. Apa yang dianggap baik malah justru sebaliknya, menyakitkan.
Atau barangkali belum puas dengan kisah diatas, ada sebuah kisah lagi yang mungkin bisa kita ambil pelajaran. Ini adalah kisah cinta orang tua pada anaknya, konon tidak ada cinta yang lebih besar dari ini, tapi cinta ini malah menjadi masalah bagi anaknya. Alkisah seorang anak perempuan yang dilahirkan dari hubungan zina, maka ayahnya tidak berhak menjadi wali baginya. Sampai tiba hari pernikahannya, sang anak masih belum tahu bahwa ternyata dirinya adalah anak hasil zina. Sementara ayahnya yang tengah menyesali perbuatannya, tak tega mengatakan kebenaran yang menyakitkan itu… akhirnya karena dia pikir tak ada yang tahu anaknya adalah hasil perbuatan zina, maka dia lupa akan syariat Alloh, dia nikahkan anaknya… sungguh bencana besar telah terjadi, pernikahan ini menjadi tidak sah, dan sepanjang pernikahannya anaknya yang tidak tahu apa-apa itu, telah dibiarkan berbuat zina oleh ayahnya sendiri… Begitulah pahitnya cinta yang melupakan kebenaran! naudzubillah…
Kulil haqqu walau kana murron, katakanlah yang benar, walaupun itu pahit! Jika kejujuran adalah kebenaran, mungkin ada rasa sakit mengetahui kebenaran, tapi kebenaran akan tetap benar, walaupun menyakitkan… Jangan sekali-sekali kita memberikan harapan palsu atas nama kebaikan, biarkanlah harapan itu muncul didasari kejujuran. Sebab harapan itu tumbuh dan menumbuhkan, jika ia didasari kebaikan yang ternyata tidak jujur, sekedar menjaga hati dan perasaan… ia tumbuh dan terus tumbuh… namun setelah harapan itu berkembang akhirnya ia pasti mati dengan menyakitkan. Namun bila ia tumbuh diatas kejujuran walaupun tidak sesuai keinginan, ia akan tetap hidup, karena kebenaran dijaga ketat oleh Tuhan. Selamanya…
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.(QS. Al Baqarah:216)
Wallohu’alam
(Ied ide I did)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas apresiasinya, semoga menjadi bahan perbaikan ^^