Kami memang sering bertemu, saling menatap wajah, dan kemudian gadis itu tersenyum tak lebih dari lima detik, dan kamipun kembali pada aktivitas masing-masing, sampai hari itu, kami masih belum saling kenal. Wajahnya sederhana tapi manis, pakaiannya selalu dengan gaya khas, jilbab yang tidak terlalu lebar, tapi menutup dada, dengan atasan panjang hingga sedikit diatas lutut, dan celana panjang lengkap dengan kaos kaki, membawa tas besar berwarna coklat dan kupikir usianya paling masih belasan. Aku penasaran...
Kesempatan ini tentunya tak kulewatkan begitu saja, karena kami sama-sama terlambat sholat jamaah, makanya aku ajak dia berjamaah bersamaku. Dia khusyu mengikuti gerakanku, sampai usai sholat kami berdua duduk berdampingan dan berdoa. Kulihat wajahnya menitikkan air mata, Rabbi... apapun doanya, tolong kabulkan ya Rabb...
Usai dia berdoa aku segera mengajaknya bersalaman, aku ingin mengenal gadis ini! Entah kenapa magnetnya begitu kuat, mendorongku untuk terus mengingat wajahnya. Kamipun berkenalan. “Aku Syifa”, ucapku sambil menatapnya menunggu jawaban. Dia pun berkata lirih, “Dian”. Lalu kembali menunduk sambil melipat mukenanya.
“kayaknya aku sering liat Dian disini” tanyaku berikutnya.
“Ya, kerja di sekitar sini”jawab Dian masih sambil merapikan lipatan mukenanya yang sudah rapi.
“Dimana?” tanyaku lagi.
“Di Koran depan Balai Muslimin Mbak, kalo mbak Syifa dimana?”
“Eh, sama, aku juga kerja di sekitar sini, di warung jilbab, kapan-kapan main ke tempatku ya?” jawabku antusias.
“Yang dimana mba?” tanyamu lagi,kali ini sambil menatapku, senangnya akhirnya kamu mau menatapku...
“Di deket Optik Hadi, depan LP tempatnya kecil, jadi sering ga keliatan...”jawabku sambil tertawa.
Dan kamu pun tersenyum.
“Iya, insyaAlloh kapan-kapan Dian main.”
“Wah, beneran ya? Aku tunggu lho! Eh, ngomong-ngomong kok bisa kerja disitu?” tanyaku penasaran. Kali ini Dian kembali menunduk.
“Iya mbak, aku kan cuma lulusan SMP, jadi kerja disitu aja udah seneng banget!” Aku tertegun sejenak, menatap wajahnya yang sendu tersenyum mantap.
“Iya, yang penting semangat ya!” Ucapku seperti bicara pada diriku sendiri. Tak tahu harus bertanya apa lagi, walaupun sebetulnya dalam hatiku semakin banyak pertanyaan.
“Rumah Dian dimana?”
“Di jatiwinangun” jawabnya lagi
“Wah, jauh juga ya? Kesini naik apa?”
“Naik sepeda mbak”
“Oohhh... trus ni lagi mau jaga atau habis jaga?”
“Ini mau jaga, dari jam 1 sampai jam 9 malem.” aku kembali menelan ludah mendengar jawabannya.
“Ini Dian sekalian pamitan mbak, mbok udah ditungguin sama yang jadwal pagi, makasih ya mbak! Assalamu'alaykum.”
“Ya, wa'alaykumussalam” Kami bersalaman dan Dian pun bergegas menghilang. Langkahnya cepat seperti biasanya.Dian yang kukenal, dia termasuk jamaah yang paling aktiv di masjid, sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya selalu berjamaah, dia juga pastinya seorang yang paham adab-adab dalam Islam, itu terlihat dari penampilan dan suluknya, dan dia bukan seorang yang senang membuang waktu, mengobrol atau sejenisnya, matanya juga menyiratkan semangat yang tak pernah padam, walau sendu, tapi dia tahu, hidup ini bukan untuk disesali. Kesimpulannya, bagiku mengenal Dian adalah mengenal pribadi yang baik dan menarik.
Baru sekali ini kami ngobrol setelah sekian kali aku ingin sekali mengenal gadis itu. Ternyata memang hidup kadang tak butuh pertanyaan “Kenapa” karena memang tak ada pilihan! Bagi orang-orang seperti Dian, tidak melanjutkan ke SMU, terpaksa bekerja sebagai apa saja, dan menikmati kehidupan sederhana, tentu tak perlu ditanya kenapa???(Ied ide I did)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas apresiasinya, semoga menjadi bahan perbaikan ^^